Friday, 4 May 2012

Forgets an undesirable thing is so hard

Forgets an undesirable thing is so hard. You.

Saat aku mencoba melupakan sesuatu yang sulit dilupakan dan berharap ketenangan hidupku kembali, cobaan pahit harus kuhadapi. Entah mengapa sel-sel dalam tubuhku seakan mati setelah kulihat si tubuh biting itu berlalu di sisiku. Bahagia dan sedih, dua rasa itu bergejolak saling beradu untuk mendapatkan tempat di hatiku. Kesal menghancurkan sistem kerja otakku. Bila dapat berontak, yang ingin kulakukan hanyalah menarik si tubuh biting lalu mendekapnya erat-erat. Sejenak kuabaikan niat melupakannya dan menikmati pahit akan kedatangannya.

Ia kembali berlalu di sisiku. Pandangannya lurus kedepan begitu tenang seperti tak ada siapapun di sekelilingnya. Saking penasaran, kuputuskan untuk menoleh ke arahnya. Padam sudah lampu yang menerangi hidupku. Hati yang kokoh bertengger diatas kebahagian harus jatuh dan remuk dalam sekejap. Mata tak mampu menyembunyikan kekecewaan atas apa yang telah dilihatnya. Seakan meradang terbawa suasana.

Batinku tersiksa oleh pemandangan yang menyakitkan ini. Mengiris kembali luka yang perlahan memulih. Entah cobaan apa lagi ini… yang jelas batinku kesakitan, terisak menahan perih yang maha dahsyat.

Aku benci situasi seperti ini. Seharusnya aku dapat menghela nafas, melegakan diri dengan melihat kaum seperti si tubuh biting. Setidaknya itu dapat membuat pikiranku tenang sejenak. Tapi semua itu hanya sebuah harapan kosong. Nihil.

Mereka duduk bersebelahan hampir saling bersandar. Aku benci melihatnya. Tak ingin kulihat tapi betapa bodohnya aku selalu menoleh ke arah mereka. Dalam pandanganku mereka begitu mesra seolah sengaja merenggut senyumku. Kalau saja aku dapat, aku ingin menarik keluar rambut mereka agar mereka tau rasa cemburuku lebih sakit dari rambut yang dijambak paksa.

Tidak. Aku tak bermaksud jahat. Aku pun bingung mengapa aku harus kesal dengan hubungan mereka? itu hak mereka. Hanya saja, aku kesal. Kenapa tak ada kesempatan untukku menaruh perasaan di hatinya? Untuk menemaninya untuk menjadi bagian dari sepenggal kisah hidupnya? Aku hanya…kesal.

Entahlah. Sekali lagi aku hanya bisa mengatakan ini terlalu menyakitkan…

First

Aku cuma gadis bolon biasa yang masih duduk di bangku sekolah dan tidak memiliki sesuatu yang istimewa. Tapi aku dapat merasakan cinta. Dia yang telah membuatku merasakan cinta saat ini. Ya… Dia. Seorang model yang memiliki wajah rupawan. Tak heran bila cewek-cewek terpesona melihatnya. Begitu beda Dia denganku.
Dia… entah mengapa, sering kali ingin kuhapus semua tentangnya namu tak pernah bisa. Dia selalu muncul, mengganggu, menghantui pikiranku yang sebenarnya sudah cukup penat oleh pelajaran MAFIKIBI. Rinduku selalu tumbuh saat Dia tak kunjung meramaikan timeline-ku, dan terobati begitu saja saat Dia muncul hanya sekedar me-retweet temannya. Rasanya ingin sekali aku bertemu dengan Dia dan menangis, setidaknya untuk benar-benar mengeluarkan sesak karena merindunya. Ya… aku jatuh cinta pada Dia. Dia telah menarikku ke dalam rasa yang maha dahsyat dengan gelombang yang membuatku terombang-ambing. Kadang aku berada di atas, kadang aku merosot turut dan terperosok sekali. Dia…
Awalnya aku bingung mengapa aku bisa merasakan rasa ini. Pertemuan pertama kami pun tak begitu mengesankan layaknya cerita dongeng. Hanya saja aku terperangkap sorot tajam matanya yang menghentikan denyut nadiku sejenak. Seketika aku mematung, membeku, ,membisu, kemudian meleleh. Kupastikan ini adalah cinta pada pandangan pertama. Lalu kami berkenalan lewat media sosial dunia maya. Awalnya memang aku yang memulai. Namun, setiap malam dia menyapaku, bertanya, dan kami saling berceloteh. Aku merasa kami berdua begitu akrab. Dia membuatku terbang melayang menembus langit biru, menjelajahi awan, hingga dapat kuraih bintang.
Suatu hari, kudapati info bahwa dia mengikuti kompetisi sebuah permodelan majalah. Dia berpasangan dengan seorang gadis luar kotaku yang kusebut saja si Bunga. Aku tak merasa biasa saja. Tapi, perasaanku berubah drastic saat muncul keisenganku untuk mengepo timeline Dia. Kubaca satu persatu tulisan yang berderet di layar hp. Syok bukan main. Syok! Tubuhku melemas seketika saat kubaca salah satu tulisan dari temannya. Aku yang sedang berada dalam puncak kebahagiaan tiba-tiba dipaksa terjun cepat tanpa sebuah pengaman. Tentu saja aku hancur, seperti hatiku. Aku tidak tau apa maksud tulisan itu. Entah hanya sebuah gossip atau memang benar adanya. Namun yang kurasakan hanyalah sebuah tombak runcing yang tertancap manis di jiwaku. Sakit.
Saat itulah kucoba untuk melupakan Dia. Kucoba untuk move on darinya. Tapi aku tak dapat membohongi perasaanku. Aku selalu rindu dengan timeline-nya yang telah berhasil membuatku makin kepo. Dan tak bisa kupungkiri lagi bahwa aku cemburu setiap kali kulihat tulisan dari Dia untuk si bunga.

Salam Rindu,
Aku.

Mengeram Kesal

Hari itu harusnya menjadi sebuah kesempatan dimana aku dapat menjalin keakraban dengannya. Tidak dapat kusembunyikan bahwa aku begitu mengharapkannya. Sudah kupikirkan sebuah rencana yang menantang perasaanku. Sayangnya, masih mengganjal keberanianku. Akhirnya, kuputuskan untuk memberinya ucapan basi lewat salah satu jejaring sosial. Jantungku berdegup semakin kencang seolah mengiringiku yang menanti ucapan balasan darinya. Cukup lama kumenanti hingga akhirnya dia membalasku. Sebuah balasan singkat yang sungguh berarti buatku. Kurasakan senyum bahagia terukir di hatiku. Senang melihat balasannya yang menyebutkan namaku. Tapi, rasa itu cepat sekali sirna. Hanya dengan sebuah kalimat yang dia posting untuk orang lain. Sebuah terimakasih biasa yang kurasa itu sangat luar biasa. Kejutan spesial yang membuatku kepo.
Kutarik nafas panjang agar sedikit rileks dalam mengepo. Santai, agar sesuatu yang tidak kuinginkan terjadi tak membuatku geram.
Jleb!
Aku syok melihat sebuah jawaban dari seseorang untuk terimakasihnya menggunakan emot layaknya seorang kekasih. Kau mengerti kan? Emoticon tanda sayang sepasang kekasih. Disitu hatiku seakan tercabik habis hanya karena emot dari titik dua dan bintang. Bete sebete-betenya bercampur dengan kesal geram marah dan kecewa. Tentu saja semua itu membuat mataku panas dan mengeluarkan cairan bening yang dicap lemah. Itu keluar begitu saja seiring kadar kecewaku yang perlahan menghancur-leburkan perasaanku.
Sebenarnya, mungkin saja mereka tak ada hubungan apa-apa. Mungkin saja karena pertemanan dekat mereka yang membuat si seseorang memberikan emot skandal itu. Tapi rasanya aneh bila bukan siapa-siapa, dan tidak ada hubungan apa-apa dengan terbuka memberikan emot-emot untuk ‘pasangan kekasih’. Bahkan TTM pun tak pernah terang-terangan seperti itu.
Entahlah… Aku merasa terlalu kecil untuk memikirkan dan menggalaukan hal seperti ini. Pacaran atau tidaknya mereka, ya sudah… Biar kujadikan Dia cerita dalam buku harianku.