Forgets an undesirable
thing is so hard. You.
Saat
aku mencoba melupakan sesuatu yang sulit dilupakan dan berharap ketenangan
hidupku kembali, cobaan pahit harus kuhadapi. Entah mengapa sel-sel dalam
tubuhku seakan mati setelah kulihat si tubuh biting itu berlalu di sisiku.
Bahagia dan sedih, dua rasa itu bergejolak saling beradu untuk mendapatkan
tempat di hatiku. Kesal menghancurkan sistem kerja otakku. Bila dapat berontak,
yang ingin kulakukan hanyalah menarik si tubuh biting lalu mendekapnya
erat-erat. Sejenak kuabaikan niat melupakannya dan menikmati pahit akan
kedatangannya.
Ia
kembali berlalu di sisiku. Pandangannya lurus kedepan begitu tenang seperti tak
ada siapapun di sekelilingnya. Saking penasaran, kuputuskan untuk menoleh ke
arahnya. Padam sudah lampu yang menerangi hidupku. Hati yang kokoh bertengger
diatas kebahagian harus jatuh dan remuk dalam sekejap. Mata tak mampu
menyembunyikan kekecewaan atas apa yang telah dilihatnya. Seakan meradang
terbawa suasana.
Batinku
tersiksa oleh pemandangan yang menyakitkan ini. Mengiris kembali luka yang
perlahan memulih. Entah cobaan apa lagi ini… yang jelas batinku kesakitan,
terisak menahan perih yang maha dahsyat.
Aku
benci situasi seperti ini. Seharusnya aku dapat menghela nafas, melegakan diri
dengan melihat kaum seperti si tubuh biting. Setidaknya itu dapat membuat
pikiranku tenang sejenak. Tapi semua itu hanya sebuah harapan kosong. Nihil.
Mereka
duduk bersebelahan hampir saling bersandar. Aku benci melihatnya. Tak ingin
kulihat tapi betapa bodohnya aku selalu menoleh ke arah mereka. Dalam
pandanganku mereka begitu mesra seolah sengaja merenggut senyumku. Kalau saja
aku dapat, aku ingin menarik keluar rambut mereka agar mereka tau rasa
cemburuku lebih sakit dari rambut yang dijambak paksa.
Tidak.
Aku tak bermaksud jahat. Aku pun bingung mengapa aku harus kesal dengan
hubungan mereka? itu hak mereka. Hanya saja, aku kesal. Kenapa tak ada
kesempatan untukku menaruh perasaan di hatinya? Untuk menemaninya untuk menjadi
bagian dari sepenggal kisah hidupnya? Aku hanya…kesal.
Entahlah.
Sekali lagi aku hanya bisa mengatakan ini terlalu menyakitkan…