Friday, 4 May 2012

First

Aku cuma gadis bolon biasa yang masih duduk di bangku sekolah dan tidak memiliki sesuatu yang istimewa. Tapi aku dapat merasakan cinta. Dia yang telah membuatku merasakan cinta saat ini. Ya… Dia. Seorang model yang memiliki wajah rupawan. Tak heran bila cewek-cewek terpesona melihatnya. Begitu beda Dia denganku.
Dia… entah mengapa, sering kali ingin kuhapus semua tentangnya namu tak pernah bisa. Dia selalu muncul, mengganggu, menghantui pikiranku yang sebenarnya sudah cukup penat oleh pelajaran MAFIKIBI. Rinduku selalu tumbuh saat Dia tak kunjung meramaikan timeline-ku, dan terobati begitu saja saat Dia muncul hanya sekedar me-retweet temannya. Rasanya ingin sekali aku bertemu dengan Dia dan menangis, setidaknya untuk benar-benar mengeluarkan sesak karena merindunya. Ya… aku jatuh cinta pada Dia. Dia telah menarikku ke dalam rasa yang maha dahsyat dengan gelombang yang membuatku terombang-ambing. Kadang aku berada di atas, kadang aku merosot turut dan terperosok sekali. Dia…
Awalnya aku bingung mengapa aku bisa merasakan rasa ini. Pertemuan pertama kami pun tak begitu mengesankan layaknya cerita dongeng. Hanya saja aku terperangkap sorot tajam matanya yang menghentikan denyut nadiku sejenak. Seketika aku mematung, membeku, ,membisu, kemudian meleleh. Kupastikan ini adalah cinta pada pandangan pertama. Lalu kami berkenalan lewat media sosial dunia maya. Awalnya memang aku yang memulai. Namun, setiap malam dia menyapaku, bertanya, dan kami saling berceloteh. Aku merasa kami berdua begitu akrab. Dia membuatku terbang melayang menembus langit biru, menjelajahi awan, hingga dapat kuraih bintang.
Suatu hari, kudapati info bahwa dia mengikuti kompetisi sebuah permodelan majalah. Dia berpasangan dengan seorang gadis luar kotaku yang kusebut saja si Bunga. Aku tak merasa biasa saja. Tapi, perasaanku berubah drastic saat muncul keisenganku untuk mengepo timeline Dia. Kubaca satu persatu tulisan yang berderet di layar hp. Syok bukan main. Syok! Tubuhku melemas seketika saat kubaca salah satu tulisan dari temannya. Aku yang sedang berada dalam puncak kebahagiaan tiba-tiba dipaksa terjun cepat tanpa sebuah pengaman. Tentu saja aku hancur, seperti hatiku. Aku tidak tau apa maksud tulisan itu. Entah hanya sebuah gossip atau memang benar adanya. Namun yang kurasakan hanyalah sebuah tombak runcing yang tertancap manis di jiwaku. Sakit.
Saat itulah kucoba untuk melupakan Dia. Kucoba untuk move on darinya. Tapi aku tak dapat membohongi perasaanku. Aku selalu rindu dengan timeline-nya yang telah berhasil membuatku makin kepo. Dan tak bisa kupungkiri lagi bahwa aku cemburu setiap kali kulihat tulisan dari Dia untuk si bunga.

Salam Rindu,
Aku.

No comments:

Post a Comment