Catatan Kecil Seorang Anak Kucing
it's my story. don't judge. i just wanna kick out some things on my head
Saturday, 17 August 2013
terjebak nostalgia
begitulah seperti judulnya. tapi aku, terjebak dalam cinta lama yang hadir namun tak pernah terealisasikan. bodoh, tapi begitulah kenyataannya. pandangan pertama 2 tahun yang lalu itu, berhasil menjebak ku kedalam penantian yang tak sampai. entah sampai kapan aku dapat berpaling dari cinta yang semu itu. sulit... karena dia telah menguasai hatiku.
Friday, 1 March 2013
22nd !
Hari ini, 1 Maret 2013, umurmu genap 22, rasanya baru kemarin kuucapkan selamat untuk angka 21mu, dan rasanya seperti 2 hari yang lalu kuucapkan selamat untuk umurmu yang menginjak kepala 2. Apa kabar? Kembali lagi kuucapkan pertanyaan itu karena kurasa memang, "hey lama kita gak bersua". Rasanya ya sudah pasti memekik di hati, ingin mengatakan rindu yang kian menjadi candu.
Ngomong-ngomong, selamat menikmati hari lahirmu yang ke-22. Kuharap semua yang terbaik selalu ada menemani hidupmu dalam naungan cinta Tuhan. Ah! ingin sekali kukatakan ini semua tanpa harus lewat basa-basi disini, tapi rasanya mustahil, rasanya cuman mimpi yang terlanjur terbawa delusi. :-)
Aku suka, menunggumu dalam duka meski terkadang itu menyakitkan, meski terkadang itu tak mungkin. Tak masalah, aku suka!
Ngomong-ngomong, selamat menikmati hari lahirmu yang ke-22. Kuharap semua yang terbaik selalu ada menemani hidupmu dalam naungan cinta Tuhan. Ah! ingin sekali kukatakan ini semua tanpa harus lewat basa-basi disini, tapi rasanya mustahil, rasanya cuman mimpi yang terlanjur terbawa delusi. :-)
Aku suka, menunggumu dalam duka meski terkadang itu menyakitkan, meski terkadang itu tak mungkin. Tak masalah, aku suka!
Tuesday, 1 January 2013
Welcome 2013!
Malam itu, 31 Desember 2012 kuhabiskan malam akhir tahun bersama
teman-teman dan rintikan gerimis yang membasahi Bandung. Meski malam itu
dingin, kurasa tak sepenuhnya dingin karena ada mereka teman-temanku yang
menghangatkannya dengan banyak keceriaan.
Ledakan mercon di udara kian memeriahkan detik-detik
pergantian tahun. Langit keabuan lebih berwarna dengan beragam mercon yang ditembakan
ke atas. Seperti Katy Perry ikut memeriahkan acara dari atas fly over. Semakin
meriah lagi ketika waktu menunjukkan tepat di angka 12. Gemuruh terompet dari
sana-sini beradu dengan ledakan mercon
dari berbagai arah membuat dago semakin rusuh dengan penyambutan awal tahun.
Sekarang, Selasa 1 januari 2013. Halaman pertama di tahun
2013. Banyak harapan yang ingin kuwujudkan di tahun ini. Entah itu untuk aku,
untuk dia, untuk mereka, bahkan untuk Indonesia. Ingin sekali semua mimpi yang
kutulis dalam ‘wall of dreams’ dapat kuceklis sebagai tanda itu telah terwujud.
Kuharap…semua yang indah, yang baik, dan yang bahagia untuk
kita akan terwujud di tahun 2013. Tahun baru 2013, untuk sebuah cerita baru,
pengalaman baru, semangat baru, perubahan, hidup yang lebih baik dan
mimpi-mimpi yang terwujud.
Dengan bahagia,
Ica.
Friday, 4 May 2012
Forgets an undesirable thing is so hard
Forgets an undesirable
thing is so hard. You.
Saat
aku mencoba melupakan sesuatu yang sulit dilupakan dan berharap ketenangan
hidupku kembali, cobaan pahit harus kuhadapi. Entah mengapa sel-sel dalam
tubuhku seakan mati setelah kulihat si tubuh biting itu berlalu di sisiku.
Bahagia dan sedih, dua rasa itu bergejolak saling beradu untuk mendapatkan
tempat di hatiku. Kesal menghancurkan sistem kerja otakku. Bila dapat berontak,
yang ingin kulakukan hanyalah menarik si tubuh biting lalu mendekapnya
erat-erat. Sejenak kuabaikan niat melupakannya dan menikmati pahit akan
kedatangannya.
Ia
kembali berlalu di sisiku. Pandangannya lurus kedepan begitu tenang seperti tak
ada siapapun di sekelilingnya. Saking penasaran, kuputuskan untuk menoleh ke
arahnya. Padam sudah lampu yang menerangi hidupku. Hati yang kokoh bertengger
diatas kebahagian harus jatuh dan remuk dalam sekejap. Mata tak mampu
menyembunyikan kekecewaan atas apa yang telah dilihatnya. Seakan meradang
terbawa suasana.
Batinku
tersiksa oleh pemandangan yang menyakitkan ini. Mengiris kembali luka yang
perlahan memulih. Entah cobaan apa lagi ini… yang jelas batinku kesakitan,
terisak menahan perih yang maha dahsyat.
Aku
benci situasi seperti ini. Seharusnya aku dapat menghela nafas, melegakan diri
dengan melihat kaum seperti si tubuh biting. Setidaknya itu dapat membuat
pikiranku tenang sejenak. Tapi semua itu hanya sebuah harapan kosong. Nihil.
Mereka
duduk bersebelahan hampir saling bersandar. Aku benci melihatnya. Tak ingin
kulihat tapi betapa bodohnya aku selalu menoleh ke arah mereka. Dalam
pandanganku mereka begitu mesra seolah sengaja merenggut senyumku. Kalau saja
aku dapat, aku ingin menarik keluar rambut mereka agar mereka tau rasa
cemburuku lebih sakit dari rambut yang dijambak paksa.
Tidak.
Aku tak bermaksud jahat. Aku pun bingung mengapa aku harus kesal dengan
hubungan mereka? itu hak mereka. Hanya saja, aku kesal. Kenapa tak ada
kesempatan untukku menaruh perasaan di hatinya? Untuk menemaninya untuk menjadi
bagian dari sepenggal kisah hidupnya? Aku hanya…kesal.
Entahlah.
Sekali lagi aku hanya bisa mengatakan ini terlalu menyakitkan…
First
Aku
cuma gadis bolon biasa yang masih duduk di bangku sekolah dan tidak memiliki
sesuatu yang istimewa. Tapi aku dapat merasakan cinta. Dia yang telah membuatku
merasakan cinta saat ini. Ya… Dia. Seorang model yang memiliki wajah rupawan.
Tak heran bila cewek-cewek terpesona melihatnya. Begitu beda Dia denganku.
Dia…
entah mengapa, sering kali ingin kuhapus semua tentangnya namu tak pernah bisa.
Dia selalu muncul, mengganggu, menghantui pikiranku yang sebenarnya sudah cukup
penat oleh pelajaran MAFIKIBI. Rinduku selalu tumbuh saat Dia tak kunjung
meramaikan timeline-ku, dan terobati
begitu saja saat Dia muncul hanya sekedar me-retweet temannya. Rasanya ingin
sekali aku bertemu dengan Dia dan menangis, setidaknya untuk benar-benar
mengeluarkan sesak karena merindunya. Ya… aku jatuh cinta pada Dia. Dia telah
menarikku ke dalam rasa yang maha dahsyat dengan gelombang yang membuatku
terombang-ambing. Kadang aku berada di atas, kadang aku merosot turut dan
terperosok sekali. Dia…
Awalnya
aku bingung mengapa aku bisa merasakan rasa ini. Pertemuan pertama kami pun tak
begitu mengesankan layaknya cerita dongeng. Hanya saja aku terperangkap sorot
tajam matanya yang menghentikan denyut nadiku sejenak. Seketika aku mematung,
membeku, ,membisu, kemudian meleleh. Kupastikan ini adalah cinta pada pandangan
pertama. Lalu kami berkenalan lewat media sosial dunia maya. Awalnya memang aku
yang memulai. Namun, setiap malam dia menyapaku, bertanya, dan kami saling
berceloteh. Aku merasa kami berdua begitu akrab. Dia membuatku terbang melayang
menembus langit biru, menjelajahi awan, hingga dapat kuraih bintang.
Suatu
hari, kudapati info bahwa dia mengikuti kompetisi sebuah permodelan majalah.
Dia berpasangan dengan seorang gadis luar kotaku yang kusebut saja si Bunga.
Aku tak merasa biasa saja. Tapi, perasaanku berubah drastic saat muncul
keisenganku untuk mengepo timeline Dia.
Kubaca satu persatu tulisan yang berderet di layar hp. Syok bukan main. Syok!
Tubuhku melemas seketika saat kubaca salah satu tulisan dari temannya. Aku yang
sedang berada dalam puncak kebahagiaan tiba-tiba dipaksa terjun cepat tanpa
sebuah pengaman. Tentu saja aku hancur, seperti hatiku. Aku tidak tau apa
maksud tulisan itu. Entah hanya sebuah gossip atau memang benar adanya. Namun
yang kurasakan hanyalah sebuah tombak runcing yang tertancap manis di jiwaku.
Sakit.
Saat
itulah kucoba untuk melupakan Dia. Kucoba untuk move on darinya. Tapi aku tak
dapat membohongi perasaanku. Aku selalu rindu dengan timeline-nya yang telah berhasil membuatku makin kepo. Dan tak bisa kupungkiri lagi bahwa
aku cemburu setiap kali kulihat tulisan dari Dia untuk si bunga.
Salam
Rindu,
Aku.
Mengeram Kesal
Hari
itu harusnya menjadi sebuah kesempatan dimana aku dapat menjalin keakraban
dengannya. Tidak dapat kusembunyikan bahwa aku begitu mengharapkannya. Sudah
kupikirkan sebuah rencana yang menantang perasaanku. Sayangnya, masih
mengganjal keberanianku. Akhirnya, kuputuskan untuk memberinya ucapan basi
lewat salah satu jejaring sosial. Jantungku berdegup semakin kencang seolah
mengiringiku yang menanti ucapan balasan darinya. Cukup lama kumenanti hingga
akhirnya dia membalasku. Sebuah balasan singkat yang sungguh berarti buatku.
Kurasakan senyum bahagia terukir di hatiku. Senang melihat balasannya yang
menyebutkan namaku. Tapi, rasa itu cepat sekali sirna. Hanya dengan sebuah
kalimat yang dia posting untuk orang lain. Sebuah terimakasih biasa yang kurasa
itu sangat luar biasa. Kejutan spesial yang membuatku kepo.
Kutarik
nafas panjang agar sedikit rileks dalam mengepo.
Santai, agar sesuatu yang tidak kuinginkan terjadi tak membuatku geram.
Jleb!
Aku
syok melihat sebuah jawaban dari seseorang untuk terimakasihnya menggunakan
emot layaknya seorang kekasih. Kau mengerti kan? Emoticon tanda sayang sepasang kekasih.
Disitu hatiku seakan tercabik habis hanya karena emot dari titik dua dan
bintang. Bete sebete-betenya bercampur dengan kesal geram marah dan kecewa.
Tentu saja semua itu membuat mataku panas dan mengeluarkan cairan bening yang
dicap lemah. Itu keluar begitu saja seiring kadar kecewaku yang perlahan
menghancur-leburkan perasaanku.
Sebenarnya,
mungkin saja mereka tak ada hubungan apa-apa. Mungkin saja karena pertemanan
dekat mereka yang membuat si seseorang memberikan emot skandal itu. Tapi
rasanya aneh bila bukan siapa-siapa, dan tidak ada hubungan apa-apa dengan
terbuka memberikan emot-emot untuk ‘pasangan kekasih’. Bahkan TTM pun tak
pernah terang-terangan seperti itu.
Entahlah… Aku merasa terlalu kecil untuk memikirkan
dan menggalaukan hal seperti ini. Pacaran atau tidaknya mereka, ya sudah… Biar
kujadikan Dia cerita dalam buku harianku.
Friday, 27 April 2012
Twenty One
Jarak usia kita tak terlampau jauh namun mengapa keakraban kita semakin menjauh?
Ini adalah harimu. Hari dimana kamu muncul ke dunia 21 tahun yang lalu. Selamat ! Semua kebaikan kan kudoakan untukmu. Ingin rasanya aku bertemu langsung denganmu sekedar untuk berjabat tangan sambil mengucapkan “Selamat Ulang Tahun!”. Itu tak mungkin. Jarak memisahkan kita. Yang aku tau Bandung terlalu luas untuk mempertemukan kita.
Kau tau, lebih dari 365 hari sudah kita saling mengenal. Dan tak lebih dari 5 waktu kita bertemu. Jelas ini pertemuan singkat. Namun pendar itu semakin berkilau di kala mulut membisu sejuta kata. Tak ingin kujelaskan apa yang terjadi saat pertemuan singkat itu. Ya….
Bagaimana kabarmu? Agustus tahun lalu kita terakhir bertemu, bukan berarti adalah akhir pertemuan kita, kuharap tidak sama sekali. Hm.. Kau terlihat banyak berubah mulai dari rambut, behel, keaktifanmu di twitter, tapi satu yg kulihat tidak berubah, senyummu. Mungkin kau tak pernah tau apa yang sering kulakukan semenjak kita ‘lost contact’. Mengeram rindu hingga aku tak tau kapan akan kudapatkan hasilnya. Berbicara mengenai rinduku, apa kau juga merasakan hal yang sama?
Seandainya kita bisa menjadi teman bermain bersama. Mungkin akan memperkecil tekanan rindu dalam hatiku, tapi tak menutup kemungkinan suhu hatiku naik ketika kau dekat dengan orang lain. Aku selalu menyesali, kenapa Tuhan tak membiarkan kita saling mengenal saat kita masih sebesar biji jagung? Kenapa ia mempertemukan kita saat kita sudah sebesar perkedel jagung? ._. *skip* atau kenapa Tuhan harus mempertemukan kita? Kalau saja aku tak bertemu denganmu, mungkin saat ini aku tak harus bertarung melawan gejolak batin yang menyeruak ingin bertemu denganmu. Bodoh. Harusnya aku bersyukur dapat bertemu denganmu. Kau memberi warna dalam kertas putihku. Dan yang baru aku sadari, dengan merindumu, aku belajar untuk sabar menunggu jawaban Tuhan.
hm…kau sekarang semakin dewasa dengan lakon kepala dua yang kau miliki. Yang kutakuti, kau akan segera berjalan ke pelaminan bersama orang lain. Usiamu masih muda, kuharap kau tak senekat itu. Lagipula, aku belum berhasil menghapus bayangmu yang terus bergelayut menghantuiku.
Sekali lagi, selamat ulang tahun untukmu. Kuharap ada sebuah keajaiban yang mempertemukan kita dalam keadaan berbahagia. Semoga kau semakin sukses dan sehat.
Ini adalah harimu. Hari dimana kamu muncul ke dunia 21 tahun yang lalu. Selamat ! Semua kebaikan kan kudoakan untukmu. Ingin rasanya aku bertemu langsung denganmu sekedar untuk berjabat tangan sambil mengucapkan “Selamat Ulang Tahun!”. Itu tak mungkin. Jarak memisahkan kita. Yang aku tau Bandung terlalu luas untuk mempertemukan kita.
Kau tau, lebih dari 365 hari sudah kita saling mengenal. Dan tak lebih dari 5 waktu kita bertemu. Jelas ini pertemuan singkat. Namun pendar itu semakin berkilau di kala mulut membisu sejuta kata. Tak ingin kujelaskan apa yang terjadi saat pertemuan singkat itu. Ya….
Bagaimana kabarmu? Agustus tahun lalu kita terakhir bertemu, bukan berarti adalah akhir pertemuan kita, kuharap tidak sama sekali. Hm.. Kau terlihat banyak berubah mulai dari rambut, behel, keaktifanmu di twitter, tapi satu yg kulihat tidak berubah, senyummu. Mungkin kau tak pernah tau apa yang sering kulakukan semenjak kita ‘lost contact’. Mengeram rindu hingga aku tak tau kapan akan kudapatkan hasilnya. Berbicara mengenai rinduku, apa kau juga merasakan hal yang sama?
Seandainya kita bisa menjadi teman bermain bersama. Mungkin akan memperkecil tekanan rindu dalam hatiku, tapi tak menutup kemungkinan suhu hatiku naik ketika kau dekat dengan orang lain. Aku selalu menyesali, kenapa Tuhan tak membiarkan kita saling mengenal saat kita masih sebesar biji jagung? Kenapa ia mempertemukan kita saat kita sudah sebesar perkedel jagung? ._. *skip* atau kenapa Tuhan harus mempertemukan kita? Kalau saja aku tak bertemu denganmu, mungkin saat ini aku tak harus bertarung melawan gejolak batin yang menyeruak ingin bertemu denganmu. Bodoh. Harusnya aku bersyukur dapat bertemu denganmu. Kau memberi warna dalam kertas putihku. Dan yang baru aku sadari, dengan merindumu, aku belajar untuk sabar menunggu jawaban Tuhan.
hm…kau sekarang semakin dewasa dengan lakon kepala dua yang kau miliki. Yang kutakuti, kau akan segera berjalan ke pelaminan bersama orang lain. Usiamu masih muda, kuharap kau tak senekat itu. Lagipula, aku belum berhasil menghapus bayangmu yang terus bergelayut menghantuiku.
Sekali lagi, selamat ulang tahun untukmu. Kuharap ada sebuah keajaiban yang mempertemukan kita dalam keadaan berbahagia. Semoga kau semakin sukses dan sehat.
Dari Seseorang,
Aku.
Aku.
Subscribe to:
Comments (Atom)